Berita7 | Kota Tangerang — Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Banten meningkatkan kewaspadaan di seluruh fasilitas kesehatan untuk merespon cepat potensi penyebaran Hantavirus usai meningkatnya perhatian terhadap kasus penyakit tersebut dari luar negeri.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi dini agar penyebaran virus tidak berdampak luas kepada masyarakat, khususnya warga yang memiliki risiko kontak dengan lingkungan tidak bersih dan hewan pengerat seperti tikus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni mengatakan pihaknya telah mensosialisasikan panduan pencegahan penyebaran Hantavirus kepada fasilitas kesehatan dan masyarakat.
Virus tersebut diketahui dapat menular melalui kotoran, urine hingga air liur hewan pengerat. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kebersihan lingkungan sebagai langkah utama pencegahan.
“Hantavirus dianggap sangat berbahaya karena dapat menginfeksi saluran pernapasan sampai ginjal manusia,” ujar Dini.
Ia menjelaskan, gejala Hantavirus biasanya muncul dalam satu hingga delapan pekan setelah paparan. Gejalanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, tubuh lemas hingga gangguan pernapasan dan gagal ginjal pada kondisi tertentu.
Selain memperkuat kewaspadaan di fasilitas kesehatan, Pemerintah Kota Tangerang juga mengimbau masyarakat untuk rutin menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar agar tidak menjadi sarang tikus.
Pemkot Tangerang menilai kebersihan lingkungan menjadi langkah paling penting untuk memutus potensi penyebaran virus Hanta di tengah masyarakat, terutama saat kondisi cuaca ekstrem dan pascabanjir yang rawan memicu munculnya hewan pengerat.
Sejumlah warga mengaku mulai meningkatkan kebersihan lingkungan setelah adanya imbauan dari pemerintah terkait ancaman penyebaran Hantavirus. Mereka berharap sosialisasi kesehatan terus dilakukan agar masyarakat lebih memahami gejala dan cara pencegahannya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono memastikan sebanyak 23 kasus Hantavirus yang ditemukan di Indonesia sejak 2023 merupakan jenis ringan dan tidak memiliki tingkat fatalitas tinggi seperti kasus yang ditemukan pada kapal pesiar MV Hondius.
Menurut Dante, Indonesia hanya mendeteksi varian “Hanta Fever Renal Syndrome” dengan tingkat kematian lebih rendah dibandingkan varian “Pulmonary Syndrome” yang memiliki fatalitas mencapai 60 hingga 80 persen.
“Di Indonesia sudah ketemu 23 kasus dari tahun 2023, tapi semuanya adalah Hanta Fever Renal Syndrome yang ringan,” katanya.
Ia menambahkan pola penyebaran virus ini mirip dengan leptospirosis, yakni melalui perantara tikus dan lingkungan dengan sanitasi buruk. Karena itu, masyarakat diimbau lebih waspada menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah risiko penularan. (B7)
