Rupiah Berpeluang Menguat, Ekonom Soroti Langkah BI dan Pemerintah Hadapi Tekanan Dolar AS

Written by

in

Berita7 | Jakarta – Pernyataan bersama antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah terkait strategi penguatan nilai tukar rupiah dinilai menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan. Koordinasi yang ditunjukkan antarotoritas disebut mampu meredam kekhawatiran investor di tengah tekanan dolar Amerika Serikat terhadap mata uang negara berkembang.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai pernyataan yang disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam forum di Gedung DPR RI menjadi indikasi bahwa pemerintah dan otoritas moneter bergerak dalam satu arah menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Menurutnya, pasar melihat koordinasi antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, serta lembaga terkait sebagai sinyal bahwa negara hadir dalam menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Pernyataan bersama tersebut dapat memberikan sentimen positif bagi pasar karena menunjukkan adanya koordinasi yang kuat antarotoritas dalam menjaga stabilitas rupiah,” ujar Syafruddin.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pasar tidak hanya membutuhkan pernyataan optimistis. Investor akan menilai konsistensi kebijakan melalui berbagai indikator ekonomi seperti Credit Default Swap (CDS), yield Surat Berharga Negara (SBN), arus modal asing, cadangan devisa, hingga efektivitas intervensi di pasar valuta asing.

Menurut Syafruddin, pasar akan lebih percaya apabila langkah koordinasi tersebut diikuti kebijakan yang konkret, terukur, dan transparan. Tanpa langkah nyata, sentimen positif yang muncul berpotensi bersifat sementara.

Ia menjelaskan bahwa Bank Indonesia perlu memperjelas strategi stabilisasi kurs, termasuk arah intervensi di pasar valuta asing, penguatan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), Non-Deliverable Forward (NDF), serta pemanfaatan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

[baca_juga]

Di sisi lain, Kementerian Keuangan dinilai perlu menjaga kredibilitas fiskal melalui kepastian pengelolaan defisit anggaran, strategi penerbitan Surat Berharga Negara, serta disiplin belanja pemerintah.

Syafruddin juga mendorong percepatan repatriasi devisa hasil ekspor dan penguatan pasokan valuta asing dari sektor riil agar tekanan terhadap rupiah dapat berkurang secara berkelanjutan.

Selain itu, pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi besar yang berpotensi meningkatkan permintaan dolar dinilai perlu diperketat untuk menjaga keseimbangan pasar.

Menurutnya, faktor terpenting dalam pemulihan nilai tukar rupiah adalah menurunkan persepsi risiko Indonesia di mata investor global. Ketika indikator risiko seperti CDS menurun, pasar akan menilai kondisi ekonomi Indonesia semakin stabil sehingga membuka ruang penguatan rupiah dan pemulihan pasar saham nasional.

“Pasar tidak akan tenang hanya karena para pejabat berbicara dengan nada yang sama, tetapi karena kebijakan yang dijalankan mampu menunjukkan hasil nyata melalui indikator ekonomi yang membaik,” kata Syafruddin.

Penguatan koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas keuangan lainnya diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan. (B7

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *