Berita7 | JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menyerahkan enam unit pesawat tempur Rafale buatan Prancis kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam seremoni di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin pagi.
Penyerahan tersebut menjadi bagian dari program modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) nasional guna memperkuat pertahanan udara Indonesia menghadapi dinamika geopolitik dunia yang semakin tidak menentu.
Enam jet tempur Rafale yang diterima TNI merupakan bagian dari kontrak pembelian total 42 unit pesawat tempur Rafale dari Prancis yang pengirimannya dilakukan secara bertahap hingga tahun 2029.
Selain pesawat tempur Rafale, pemerintah juga menyerahkan sejumlah alutsista strategis lainnya, mulai dari enam unit pesawat Falcon 8X, dua pesawat Airbus A400M, rudal Meteor dan Hammer, hingga dua radar Ground Control Interception (GCI).
Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa penguatan pertahanan menjadi syarat utama menjaga stabilitas nasional dan kedaulatan negara.
Menurutnya, kondisi geopolitik global saat ini dipenuhi ketidakpastian sehingga Indonesia harus memiliki kesiapan pertahanan yang kuat untuk melindungi wilayah nasional.
“Ini saya kira salah satu tonggak penambahan kekuatan pertahanan kita. Kita tidak punya kepentingan selain menjaga wilayah kita sendiri,” ujar Prabowo.
Ia menambahkan, pertahanan yang kuat menjadi jaminan agar Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas dan kedaulatan di tengah situasi dunia yang terus berubah.
“Tapi kita lihat kondisi geopolitik penuh dengan ketidakpastian dan kita tahu bahwa pertahanan adalah syarat utama untuk stabilitas,” lanjutnya.
Pemerintah juga disebut telah menyiapkan anggaran tambahan signifikan untuk memperkuat alutsista nasional pada tahun mendatang.
Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang modernisasi pertahanan Indonesia, khususnya dalam memperkuat kemampuan udara dan sistem pertahanan terpadu.
Pesawat Rafale sendiri dikenal sebagai salah satu jet tempur multi-peran modern yang memiliki kemampuan tempur tinggi dan digunakan sejumlah negara maju.
Sementara pesawat Airbus A400M akan memperkuat kemampuan angkut strategis militer, sedangkan radar GCI berfungsi meningkatkan pengawasan wilayah udara nasional.
Penguatan armada pertahanan ini dinilai penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan TNI dalam menjaga wilayah kedaulatan Indonesia yang luas.
Selain itu, modernisasi alutsista juga diharapkan mampu meningkatkan efek deteren atau daya gentar Indonesia di kawasan regional.
Langkah tersebut sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun sistem pertahanan yang modern, adaptif, dan mampu menghadapi berbagai tantangan keamanan masa depan.
Dengan tambahan jet tempur Rafale dan alutsista strategis lainnya, Indonesia diharapkan memiliki kemampuan pertahanan yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas nasional sekaligus melindungi kepentingan negara di tengah perkembangan geopolitik global yang terus berubah. ) B7)
