Tag: BPBD Tangsel

  • BMKG Ungkap Penyebab Hujan Ekstrem di Tangsel, 33 Rumah Warga Rusak Diterjang Angin Kencang

    Berita7 | Tangerang Selatan — Balai Besar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah II mengungkap penyebab hujan lebat disertai angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Kota Tangerang Selatan pada Selasa (26/5/2026).

    Kepala Balai Besar BMKG Wilayah II, Hartanto, mengatakan kondisi cuaca ekstrem tersebut dipicu adanya belokan angin di wilayah Banten bagian utara, termasuk kawasan Tangerang Raya.

    “Cuaca di wilayah Tangerang dipengaruhi adanya daerah belokan angin yang memicu pertumbuhan awan hujan secara cepat,” ujar Hartanto, Rabu (27/5/2026).

    Selain itu, tingginya kelembapan udara juga menjadi faktor utama terbentuknya awan konvektif yang memicu hujan sedang hingga lebat disertai kilat dan angin kencang.

    Akibat cuaca ekstrem tersebut, sebanyak 33 rumah warga di kawasan Sawah, Ciputat, mengalami kerusakan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangerang Selatan mencatat sedikitnya 180 kepala keluarga turut terdampak genangan air.

    Penata Pelayanan Operasional Danton BPBD Tangsel, Dian Wiryawan, menjelaskan kerusakan terjadi di tiga RT di wilayah RW 12, Sawah, Ciputat. Mayoritas kerusakan berada pada bagian atap rumah warga akibat diterjang angin kencang saat hujan deras turun.

    “Sebanyak 32 rumah mengalami rusak ringan dan satu rumah mengalami rusak sedang,” kata Dian.

    Ia menjelaskan, kerusakan ringan umumnya terjadi pada bagian asbes rumah yang terlepas atau berlubang akibat terpaan angin. Meski demikian, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi dalam kejadian tersebut.

    “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Saat ini kondisi sudah mulai terkendali,” tambahnya.

    Peristiwa hujan ekstrem tersebut sempat membuat warga panik karena angin bertiup cukup kencang disertai suara gemuruh dan hujan deras yang berlangsung dalam waktu singkat.

    BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan, terutama pada sore hingga malam hari. (B7

  • Warga Setu Ambil Langkah di Turap Longsor, Dampaknya Mulai Terlihat di Tangerang Selatan Setelah Sebulan Belum Ditangani

    Warga Setu Ambil Langkah di Turap Longsor, Dampaknya Mulai Terlihat di Tangerang Selatan Setelah Sebulan Belum Ditangani

    Berita7 | Tangerang Selatan,. – Turap penahan tanah di Kampung Sengkol, RT 06 RW 02, Kelurahan Muncul, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, yang longsor sejak lebih dari satu bulan lalu hingga kini belum mendapatkan penanganan serius. Kondisi tersebut membuat warga mulai khawatir karena hujan yang masih sering turun pada Mei 2026 berpotensi memicu longsor susulan di sekitar permukiman.

    Situasi itu kini memunculkan keresahan di tengah masyarakat. Warga menilai kerusakan turap bukan sekadar persoalan lingkungan biasa, melainkan ancaman yang bisa membahayakan keselamatan rumah dan aktivitas warga di kawasan Setu.

    Meski sejumlah pejabat sempat turun ke lokasi saat kejadian pertama kali terjadi, masyarakat mengaku belum melihat adanya langkah nyata untuk membangun kembali turap yang ambruk tersebut.

    Aksi Warga di Tengah Minimnya Penanganan

    Karena belum ada perbaikan permanen, warga akhirnya memilih melakukan langkah darurat secara swadaya. Pada Minggu (10/05/2026), masyarakat setempat berinisiatif mendatangkan alat berat menggunakan dana hasil patungan warga.

    Langkah tersebut dilakukan agar kondisi tanah di sekitar lokasi tidak semakin bergerak dan memicu longsor tambahan saat hujan turun deras.

    Salah satu warga, Njay, mengatakan masyarakat sebenarnya sudah berharap ada tindak lanjut cepat dari pemerintah setelah sejumlah pihak melakukan peninjauan ke lokasi longsor.

    “Sudah ada yang datang pak waktu kejadian, mulai dari BPBD Kota Tangerang Selatan, Ketua DPRD Abdul Rasyid, lurah, serta anggota DPRD lainnya. Namun sampai sekarang belum ada tindakan lanjutan mengenai hal tersebut,” ujar Njay.

    Menurutnya, warga tidak ingin menunggu kondisi semakin parah sebelum ada penanganan serius dari pemerintah daerah.

    Dampak Longsor Mulai Dirasakan Warga

    Kondisi turap yang longsor membuat warga di sekitar Kampung Sengkol merasa waswas setiap kali cuaca memburuk. Apalagi, wilayah Tangerang Selatan dalam beberapa pekan terakhir masih kerap diguyur hujan dengan intensitas cukup tinggi.

    Warga khawatir longsor susulan dapat terjadi sewaktu-waktu dan berdampak langsung terhadap rumah maupun akses lingkungan sekitar. Selain faktor keamanan, masyarakat juga menilai kondisi tersebut mulai mengganggu kenyamanan aktivitas harian warga.

    Karena itu, penanganan sementara yang dilakukan secara gotong royong dianggap menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko lebih besar sebelum adanya pembangunan ulang dari pemerintah.

    “Kami mulai hari ini berinisiatif mendatangkan alat berat menggunakan dana patungan warga,” kata Njay.

    Aksi swadaya tersebut sekaligus menunjukkan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi lingkungan yang hingga kini belum mendapatkan penanganan permanen.

    Warga berharap Pemerintah Kota Tangerang Selatan segera mengambil langkah cepat untuk membangun kembali turap penahan tanah yang longsor. Menurut masyarakat, keberadaan turap sangat penting untuk menjaga struktur tanah tetap stabil, terutama saat musim hujan.

    Selain meminta percepatan pembangunan, warga juga berharap pemerintah dapat melakukan pengawasan terhadap titik rawan longsor lainnya di kawasan permukiman padat.

    “Kami berharap pemerintah bisa segera membangun kembali turap yang sudah longsor. Kami khawatir dengan cuaca seperti ini bisa menambah longsor lagi,” pungkas Njay.

    Masyarakat berharap penanganan infrastruktur lingkungan tidak berlarut-larut karena dampaknya langsung dirasakan warga sekitar.

    Kasus longsornya turap di Kecamatan Setu menjadi sorotan terkait pentingnya perawatan infrastruktur lingkungan di wilayah Tangerang Selatan. Pertumbuhan kawasan permukiman yang semakin padat membuat keberadaan turap dan drainase menjadi sangat vital untuk menjaga keamanan lingkungan.

    Warga berharap pemerintah daerah dapat mempercepat penanganan di titik-titik rawan longsor, terutama saat kondisi cuaca masih tidak menentu sepanjang 2026. Selain pembangunan ulang, masyarakat juga meminta adanya langkah mitigasi jangka panjang agar kejadian serupa tidak terus berulang.

    Dengan kondisi yang masih rawan, warga Kampung Sengkol kini hanya berharap pemerintah segera turun tangan sebelum longsor susulan benar-benar terjadi dan membahayakan lebih banyak permukiman di kawasan Setu. (DRA)